Dede Farhan Aulawi Nilai Pemesanan Radar GM400 Alpha Bersifat Strategis - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Minggu, 02 Juli 2023

Dede Farhan Aulawi Nilai Pemesanan Radar GM400 Alpha Bersifat Strategis



Bregasnews.com - “ Pemesanan Pemerintah RI cq Kemenhan RI melalui BUMN PT. LEN terkait pengadaan 13 radar militer jarak jauh dari perusahaan Thales – Perancis tentu direspon positif karena terkait dengan kebijakan strategis dalam modernisasi alutsista (alpalhankam) terutama untuk meningkatkan pengawasan dan pertahanan udara di seluruh wilayah NKRI. Apalagi jika kita menganalisis perkembangan perubahan lingkungan strategis yang memiliki potensi ancaman signifikan terhadap kedaulatan negara “, ungkap Pemerhati Teknologi Hankam Dede Farhan Aulawi di Bandung, Sabtu (1/7). 


Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi terbatas para pemerhati teknologi pertahanan dan keamanan di sebuah cafe di Bandung. Pada kesempatan tersebut Dede berpandangan bahwa pemesanan Radar Ground Master 400 Alpha (GM400a) memungkinkan militer Indonesia untuk memanfaatkan satu gambar udara yang mengintegrasikan deteksi semua jenis ancaman, seperti jet, rudal, helikopter atau drone (pesawat tanpa awak). Radar GM400a adalah radar seluler dengan jangkauan 515 km dan terintegrasi dengan kemampuan kecerdasan buatan. Belanja kebutuhan ini  lebih ditujukan untuk peremajaan, modernisasi dan menjawab potensi ancaman


Menurutnya, Radar (Radio Detection and Ranging) merupakan suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat terbang, berbagai kendaraan bermotor dan informasi cuaca (hujan). Dengan demikian pengguna dari radar itu sebenarnya bukan hanya militer saja, tetapi banyak juga digunakan dan diperlukan oleh lembaga sipil yang mengemban fungsi terkait, misalnya, pelayaran, penerbangan, BMKG, dan lain – lain. Konsep radar pada dasarnya mengukur jarak dari sensor ke target. Ukuran jarak tersebut didapat dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan gelombang elektromagnetik selama penjalarannya mulai dari sensor ke target dan kembali lagi ke sensor. Jadi konsep radar ini hampir sama dengan metode seismik pada geofisika. Ujarnya.


Adapun klasifikasi radar, terbagi atas dasar bentuk gelombang dan jumlah antena-nya. Berdasarkan bentuk gelombang (waveform) ada Continuous wave/CW (gelombang berkesinambungan), merupakan radar yang menggunakan transmitter dan antena penerima (receive antenna) secara terpisah, di mana radar ini terus menerus memancarkan gelombang elektromagnetik. Radar CW yang tidak termodulasi dapat mengukur kecepatan target melalui serta posisi sudut target secara akurat. Radar CW yang tidak termodulasi biasanya digunakan untuk mengetahui kecepatan target dan menjadi pemandu rudal (missile guidance). Ada juga Pulsed radars/PR (radar berdenyut), yaitu radar yang gelombang elektromagnetiknya diputus secara berirama. Frekuensi denyut radar (Pulse Repetition Frequency/PRF) dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu PRF high, PRF medium dan PRF low.


Sementara jika berdasarkan jumlah antenanya, ada Radar monostatis yaitu jenis radar yang hanya memiliki sebuah antena yang digunakan untuk memancarkan maupun menerima sinyal. Ada juga Radar bistatis/multistatis yaitu sistem radar yang komponennya terdiri dari pemancar sinyal (transmitter) dan satu atau lebih penerima sinyal, di mana kedua komponen tersebut terpisah. Kedua komponen itu dipisahkan oleh suatu jarak yang dapat dibandingkan dengan jarak target/objek. Objek dapat dideteksi berdasarkan sinyal yang dipantulkan oleh objek tersebut ke pusat antena. Berdasarkan pemancarnya radar Bi/Multistatic dapat dibagi lebih lanjut menjadi dua macam yaitu Radar bi-static kooperatif yang pemancarnya sudah terintegrasi dengan unit radarnya, Contoh dari radar ini cukup banyak, di antaranya adalah radar OTH (Over The Horizon) seperti Jindalee dan radar Struna-1MU buatan Rusia. Sementara Radar bi-static non-kooperatif adalah radar bi-static yang pemancarnya tidak terintegrasi dengan unit radarnya, misalnya adalah Silent Sentry buatan Lockheed martin yang memanfaatkan pemancar seperti Stasiun Televisi atau Radio.


Perlu diketahui juga terkait dengan tiga komponen utama yang tersusun di dalam sistem radar, yaitu antena, pemancar sinyal dan penerima sinyal. Antena yang terletak pada radar merupakan suatu antena reflektor berbentuk piring parabola yang menyebarkan energi elektromagnetik dari titik fokusnya dan dipantulkan melalui permukaan yang berbentuk parabola. Antena radar memiliki dua kutub (dwikutub). Kemudian ada pemancar sinyal yang berfungsi untuk memancarkan gelombang elektromagnetik melalui antena agar sinyal objek yang berada di daerah tangkapan radar dapat dikenali. Sementara penerima sinyal berfungsi sebagai penerima kembali pantulan gelombang elektromagnetik dari sinyal objek yang tertangkap oleh radar melalui reflektor antena. 


Aplikasinya di dunia militer tentu banyak sekali, misalnya Airborne Early Warning (AEW) sebuah sistem radar yang berfungsi untuk mendeteksi posisi dan keberadaan pesawat terbang. Sistem radar ini biasanya dimanfaatkan untuk pertahanan dan penyerangan udara. Ada juga radar pemandu peluru kendali, biasa digunakan oleh sejumlah pesawat tempur untuk mencapai sasaran/target penembakan. Salah satu pesawat yang menggunakan jenis radar ini adalah pesawat tempur AS F-14. Dengan memasang radar ini pada peluru kendali udara (AIM-54 Phoenix), maka peluru kendali yang ditembakkan ke udara (air-to-air missile) dapat mencapai sasarannya dengan tepat.


“ Oleh karenanya pemesanan dan pengadaan radar GM400a ini mampu meningkatkan kemampuan TNI (khususnya TNI AU) dalam mendeteksi kehadiran obyek ancaman, seperti pesawat musuh, serangan rudal atau pengintaian oleh pesawat tanpa awak, dalam berbagai situasi, terutama yang tidak mampu dijangkau oleh mata manusia secara langsung. Apalagi Indonesia berada di kawasan yang strategis sangat dinamis dan rentan konflik, sehingga penting bagi negara ini untuk membangun postur pertahanan yang memadai dalam mengatasi kerentanan dan menangkal ancaman. Jadi ini semua menunjukkan komitmen, rasa tanggung jawab dan upaya untuk membangun kapabilitas pertahanan negara yang memiliki efek deteren atau daya tangkal, modern dan profesional ”, tegas Dede.


Namun pemerintah tetap perlu diingatkan untuk selalu memperhatikan aspek transfer dan adopsi teknologi, kemandirian industri pertahanan dan itikad mengubah skema belanja menjadi investasi pertahanan. Termasuk rencana pembelian 12 jet tempur Mirage bekas dari Qatar dengan kontrak senilai US$734,5 juta (Rp11 triliun) untuk meningkatkan kemampuan TNI Angkatan Udara di tengah kekurangan atas pesawat siap tempur. Pengadaan ini juga telah mencakup 14 unit engine and T-cell, technical publications, GSE, spare, test benches, A/C delivery, FF & insurance, dukungan servis selama tiga tahun, pelatihan pilot, teknisi, dan infrastrukur, serta persenjataan. Ada juga peluang untuk membeli mesin jet tempur F-15 (engine Pratt & Whitney F100) bekas dari Jepang untuk bisa dipasang di jet tempur F-16 yang dioperasikan TNI Angkatan Udara. 


“ Perencanaan strategis ini tentu dinilai sangat penting sekali, akan tetapi ada beberapa hal yang harus benar – benar diperhatikan yaitu kelengkapan dokumen pendukung guna meningkatkan utilisasi dan umur pakai radar itu sendiri. Mulai dari penyiapan dokumen kontrak dan work ordernya, misalnya operation manual, maintenance manual, dan life time parts manual. Jika tidak diminta umumnya dokumen tersebut tidak diberikan, kecuali operation manual. Padahal setiap komponen elektronik itu ada umur pakainya. Kedua menyangkut maintainability, dan realiability komponen maupun sistem. Ketiga sebelum pengiriman barang selalu ada yang disebut pre shipment inspection. Personil yang dikirim untuk melakukan pre shipment inspection ini harus benar – benar memahami pre design dan capability desain, technical drawing, manufacturing process, inspection document dan personnel qualification, assembling process, quality assurance, functional test. Jadi datang ke sana bukan hanya memeriksa jumlah (quantity) saja. Kalau ini dilakukan dengan benar proses kegiatan pre shipment inspection oleh 3 atau 4 orang itu bisa 2 minggu sampai 1 bulanan “, pungkas Dede.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman