Prawita GENPPARI Terus Sosialisasikan Inovasi dalam Pengembangan Wisata Berkelanjutan - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Kamis, 30 Mei 2024

Prawita GENPPARI Terus Sosialisasikan Inovasi dalam Pengembangan Wisata Berkelanjutan



Bregasnews.com - “ Inovasi sangat diperlukan dalam bidang apapun, termasuk bidang kepariwisataan. Inovasi merupakan kata kunci untuk menyelesaikan stagnasi dan kegagalan di banyak desa wisata. Sekian desa yang sudah mendapatkan SK Desa Wisata pada akhirnya berguguran satu persatu karena minim inovasi. Baik inovasi pemikiran, inovasi program maupun inovasi konsep. Desa wisata yang masih bisa bertahan sampai saat ini, pada umumnya karena mereka mampu melakukan inovasi berkelanjutan yaitu berhasil mengintegrasikan potensi alam, seni-budaya, dan buatan ke dalam pariwisata “, ujar Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung, Selasa (28/5).


Hal tersebut ia sampaikan ketika ditanya faktor – faktor yang menjadi akar penyebab banyaknya desa wisata yang berguguran di tengah jalan. Menurutnya, faktor penyebab tentu ada beberapa hal, artinya tidak ada penyebab tunggal. Hanya saja ada yang menjadi faktor penyebab dominan, dan ada faktor penyebab terkait. Disinilah pentingnya mengembangkan pola fikir yang tumbuh, mulai dari perumusan masalah, generasi ide, promosi ide, pengembangan konsep, pemasaran, dan evaluasi pasca pemasaran. Proses inovasi tersebut dapat berjalan karena didorong oleh banyak faktor, seperti melibatkan banyak aktor, memiliki tim yang solid, berorientasi pada kebutuhan wisatawan, memobilisasi peran aktor kunci, terbuka pada akses pengetahuan baru, membangun komunikasi informal, mendapat dukungan masyarakat, peran sektor publik, dan adanya perbaikan terus-menerus. 


Hal – hal di atas tentu akan berimplikasi pada literatur inovasi desa wisata, yaitu inovasi komunitas ternyata memiliki cara kerja yang relatif sama dengan inovasi layanan pada umumnya, proses inovasi mengikuti model linier generasi pertama, intensitas komunikasi dan diskusi informal menjembatani pembangkitan dan pengembangan ide, modal sosial menjadi struktur kekuatan dalam hubungan, memobilisasi peran aktor kunci dan dukungan masyarakat menjadi temuan khas yang mendorong Inovasi desa wisata.


Apalagi kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) juga telah mencanangkan pengembangan desa wisata merujuk pada konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan. Dimana, sustainable tourism adalah pariwisata yang memerhatikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Kemenparekraf / Baparekraf memberlakukan pedoman dalam pembangunan destinasi wisata berkelanjutan yang terdiri dari empat kategori, yaitu pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, serta pelestarian lingkungan.


Selanjutnya Dede juga menambahkan bahwa desa wisata merupakan bentuk pariwisata pedesaan yang menawarkan aktivitas wisata desa, interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat untuk mempelajari dan mengalami kehidupan tradisional di desa tersebut. Desa wisata terdiri dari berbagai bentuk seperti wisata pertanian/peternakan, wisata budaya, wisata alam, wisata petualangan, dan ekowisata. Hal ini dapat diartikan sebagai suatu kawasan dengan ukuran tertentu

dan berpotensi menjadi keunikan daya tarik wisata yang mencerminkan ciri khas penduduknya serta dapat menciptakan perpaduan beberapa daya tarik wisata dan fasilitas penunjang untuk menarik wisatawan. 

 

Pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakatnya juga sudah mulai berkembang dengan dukungan UU Desa No. 6/2014. Peraturan ini memberikan ruang bagi desa untuk mengelola pariwisata dan memperoleh manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat pedesaan. Peraturan tersebut juga mendukung partisipasi langsung masyarakat dalam kegiatan pembangunan, salah satunya kegiatan pariwisata. Desa wisata bertujuan untuk memperkuat pemerintah daerah dan memberdayakan masyarakat desa.


“ Konsep desa wisata terintegrasi dengan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. Secara umumnya, inovasi digambarkans sebagai tujuan manusia untuk melakukan perubahan, yang dikaitkan dengan kapasitas kreatif dari penemuan sebagai sumber perubahan teknologi, sosial dan budaya. Tata kelola yang inovatif dapat terbentuk apabila memenuhi beberapa aspek, seperti  kolaborasi atau kerjasama aktif, kepemimpinan yang mendorong terciptanya ide dan inovasi, institusi atau kelembagaan, dan nilai-nilai lokal “, pungkas Dede.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman