Oleh : Dede Farhan Aulawi
Dalam dinamika sosial-politik dan ekonomi modern, kerakusan tidak lagi tampil sebagai sosok yang vulgar, buas, dan mudah dikenali. Ia berevolusi menjadi entitas yang lebih halus, lebih elegan, dan sering kali dibalut dengan narasi kebaikan. Inilah “manifesto kerakusan yang dibungkus kebaikan”, sebuah pola pikir dan praktik yang mengklaim bekerja demi kepentingan bersama, tetapi sesungguhnya memperluas kepentingan dirinya sendiri.
Kerakusan berselimut kebaikan menjadi paradoks moral terbesar abad ini, ia tampak seperti solusi, padahal bagian dari masalah.
Pada mulanya, kerakusan adalah hasrat berlebihan untuk menguasai, memiliki, dan memanfaatkan sumber daya lebih dari yang dibutuhkan. Namun, dalam konfigurasi kehidupan kontemporer, kerakusan mengalami transformasi ideologis. Ia mengadopsi retorika humanisme, pembangunan, dan keberlanjutan.
Perusahaan-perusahaan besar mempromosikan kampanye “peduli lingkungan” sembari mengeruk sumber daya alam tanpa jeda.
Pemerintah dan elite politik berbicara tentang “demi kesejahteraan rakyat” ketika membuat proyek-proyek raksasa yang justru memperkaya lingkaran kecil oligarki. Bahkan individu berlindung di balik amal, sumbangan, atau program sosial untuk menutupi cara-cara memperoleh kekayaan yang eksploitatif.
Dengan demikian, kebaikan menjadi kosmetika moral yang melapisi kerakusan agar diterima publik.
Fenomena ini menciptakan ilusi etis. Ketika kebaikan dijadikan pembungkus, publik sering salah menilai tindakan yang sejatinya merusak. Program CSR yang megah menutupi pencemaran sungai. Istilah “pengembangan ekonomi” menutupi penggusuran warga. Jargon “modernisasi” menutupi monopoli pasar.
Narasi-narasi ini tidak disusun sembarangan. Mereka dirancang untuk meminimalkan resistensi, menciptakan legitimasi, dan mendorong masyarakat menerima ketidakadilan dengan rasa syukur.
Kerakusan menemukan bentuk barunya yang lebih cerdas, lebih sulit dipertanyakan, dan lebih berbahaya karena mengaburkan arah moral masyarakat.
Manifesto kerakusan ini juga menyusup ke dalam struktur budaya. Masyarakat digiring untuk mengagumi keberhasilan tanpa mempertanyakan cara meraihnya. Kekayaan dijadikan ukuran utama kesuksesan, sementara solidaritas dan kepedulian dipinggirkan. Ketika budaya penghargaan hanya diberikan pada mereka yang “mencapai lebih”, sekalipun dengan cara mengorbankan banyak pihak, maka secara tidak sadar publik turut memperkuat ideologi kerakusan.
Kebaikan, dalam model ini, tidak lagi berfungsi sebagai nilai intrinsik, tetapi alat retorik untuk memanipulasi persepsi.
Akar dari semua ini adalah ketidakseimbangan antara kekuasaan dan akuntabilitas. Kerakusan berkembang subur ketika struktur sosial gagal mengawasi, ketika hukum bisa dinegosiasikan, dan ketika suara rakyat dipinggirkan.
Kebaikan yang semestinya lahir dari hati nurani, malah dijadikan instrumen politik dan ekonomi untuk memuluskan berbagai agenda. Dengan demikian, manifesto kerakusan yang dibungkus kebaikan menjadi deklarasi tak tertulis bahwa kepentingan elite lebih penting daripada kehidupan banyak orang.
Menghadapi fenomena ini, masyarakat membutuhkan kesadaran kritis. Kebaikan harus dipisahkan dari kemasan visualnya. Ia harus dibaca dari dampaknya, bukan dari slogan atau promosi. Suatu tindakan hanya dapat disebut baik jika tidak mengorbankan martabat manusia lainnya. Transparansi, pengawasan publik, dan keberanian moral menjadi kunci untuk menyingkap motif sesungguhnya di balik tindak-tanduk lembaga maupun individu. Tanpa sikap kritis, masyarakat akan terus terjebak dalam ilusi kebaikan yang melanggengkan kerakusan struktural.
Pada akhirnya, manifesto kerakusan yang dibungkus kebaikan adalah cermin bagi peradaban hari ini. Ia mengajarkan bahwa bahaya terbesar bukanlah kejahatan yang tampil terang-terangan, melainkan kejahatan yang menyamar sebagai kebajikan.
Tugas kita bukan hanya mengkritik, tetapi membangun sistem dan budaya yang mampu membedakan kebaikan sejati dari kebaikan semu. Sebab hanya dengan kejujuran moral, peradaban dapat menyelamatkan dirinya dari kehancuran yang perlahan, namun pasti, ditimbulkan oleh kerakusan yang disembunyikan di balik senyum kebaikan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar