Oleh : Dede Farhan Aulawi
Kami suarakan perdamaian,
bukan dari mimbar yang tinggi,
melainkan dari hati yang lelah
menyaksikan luka berulang kali.
Perdamaian kami lahir dari air mata,
dari doa ibu dan tawa anak-anak.
Ia tumbuh di antara perbedaan,
menjadi jembatan, bukan jurang.
Kami tak membawa senjata,
hanya kata yang ingin memeluk.
Sebab amarah tak pernah benar-benar menang,
dan dendam selalu meninggalkan kosong.
Perdamaian yang kami suarakan
adalah keberanian untuk saling mendengar,
mengakui salah, merawat harapan,
dan memilih manusia di atas kebencian.
Selama napas masih kami jaga,
suara ini takkan padam.
Perdamaian akan terus kami nyanyikan,
sebab tanpanya, dunia kehilangan arah pulang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar