Oleh : Dede Farhan Aulawi
Sifat serakah (ṭama‘) bukan sekadar perilaku moral yang tercela, tetapi dalam sejarah Islam telah menjadi salah satu sebab utama kerusakan sosial, politik, dan peradaban. Serakah adalah kecenderungan jiwa yang terus merasa kurang, sekalipun seseorang sudah memiliki kecukupan. Al-Qur’an menggambarkan manusia secara kodrati memiliki dorongan untuk mencintai harta secara berlebihan, namun ia juga diberikan kemampuan spiritual untuk menundukkan dorongan itu agar tidak merusak kehidupan.
*Akar Teologis: Peringatan Al-Qur’an terhadap Keserakahan*
Keserakahan dikritik keras dalam banyak ayat. Surah Al-Fajr menyingkap tabiat manusia yang ketika diberi nikmat merasa dimuliakan, namun ketika diuji merasa terhina, sehingga mendorong sikap melampaui batas. Surah At-Takāthur memperingatkan manusia tentang “perlombaan memperbanyak harta” yang melalaikan hingga masuk kubur.
Al-Qur’an menegaskan bahwa sumber kerusakan adalah kerakusan manusia :
“Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia.” (Ar-Rūm: 41).
Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan bukan semata tindakan fisik, tetapi dorongan moral di baliknya, termasuk keserakahan.
*Teladan Nabi : Kepemimpinan Anti-Keserakahan*
Rasulullah SAW menunjukkan keteladanan luar biasa. Beliau memimpin komunitas Muslim yang sangat miskin di awal dakwah, tetapi tidak pernah menunjukkan ambisi pribadi atas harta. Pembagian ghanimah (harta rampasan), pengelolaan baitul mal, dan sistem zakat menunjukkan bagaimana Islam meminimalisir akumulasi kekayaan pada segelintir orang.
Dalam banyak hadis, Nabi mengingatkan bahwa satu lembah emas tidak akan membuat manusia puas. Ia pasti menginginkan lembah kedua dan ketiga. Pesan ini bukan sekadar moral, tetapi menganjurkan pembentukan sistem sosial yang menekan ekspresi keserakahan.
*Keserakahan dalam Dinamika Politik Sejarah Islam*
Sejarah politik Islam menunjukkan bahwa keruntuhan banyak dinasti dipicu oleh kerakusan elit :
a. Fitnah Kubra
Setelah wafatnya Utsman bin Affan, kontroversi politik mengenai pengelolaan kekayaan negara dan tuduhan nepotisme menjadi pemicu konflik internal umat. Meski problemnya kompleks, kerakusan sebagian kelompok elit menjadi sumber ketegangan sosial.
b. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
Dalam sejarah klasik, terdapat masa-masa kemewahan berlebihan istana yang dikritik ulama. Beberapa khalifah hidup dalam kemegahan yang menyolok, sementara rakyat menderita. Ulama seperti Hasan al-Bashri dan Abu Dzar al-Ghifari tegas menegur fenomena ini. Abu Dzar bahkan menentang akumulasi harta secara ekstrem, mengingatkan pejabat negara bahwa kekayaan bukan simbol kemuliaan, melainkan amanah.
c. Keruntuhan Andalusia
Di Andalusia, fragmentasi taifa salah satunya dipicu oleh perebutan kekuasaan dan kerakusan politik para penguasa kecil. Keserakahan menghancurkan solidaritas internal sehingga memudahkan serbuan eksternal.
d. Kolonialisme dan Keserakahan Bangsa Asing
Pada masa modern, dunia Islam mengalami penjajahan yang sebagian besar didorong keserakahan ekonomi. Kekayaan rempah, minyak, dan jalur perdagangan menjadi alasan utama intervensi kolonial. Sejarah mencatat bahwa kolonialisme berlangsung mulus ketika segelintir elit lokal tergoda kekuasaan dan materi, mengabaikan amanah rakyat.
*Sikap Anti-Serakah Ulama dan Tokoh Besar Islam*
Sepanjang sejarah, ulama memandang keserakahan sebagai penyakit hati yang paling merusak struktur sosial.
Umar bin Abdul Aziz memotong pengeluaran istana, mengembalikan aset negara yang disalahgunakan, dan hidup sederhana.
Imam Al-Ghazali menyebut serakah sebagai “pembuka segala kejahatan”, karena darinya lahir penindasan, manipulasi, dan perang.
Ibnu Khaldun menganalisis bumi runtuhnya negara karena kerakusan penguasa dalam pajak, korupsi, dan gaya hidup boros.
Dari generasi ke generasi, Islam mempertahankan wacana bahwa sistem sosial hanya dapat stabil jika nafsu serakah dikendalikan.
*Keserakahan dan Kerusakan Sosial-Ekonomi*
Dalam perspektif sejarah ekonomi Islam, serakah menyebabkan :
- Konsentrasi harta pada elit yang memperlemah roda ekonomi rakyat.
- Kerusakan lingkungan karena eksploitasi berlebihan, seperti penebangan hutan, perburuan harta karun, atau monopoli sumber air.
- Perdagangan tidak adil, seperti manipulasi harga, penimbunan, dan riba.
- Pecahnya solidaritas sosial, padahal Islam menekankan zakat, infak, dan waqaf sebagai instrumen pemerataan.
Bukti sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang membiarkan keserakahan bersemi akan cepat runtuh akibat konflik internal dan ketidakstabilan ekonomi.
*Pelajaran untuk Dunia Modern*
Keserakahan dalam sejarah Islam mencerminkan problem universal umat manusia. Pelajarannya bagi masa kini sangat relevan :
- Kebijakan publik harus menahan monopoli dan konsentrasi kekayaan.
- Pengelolaan sumber daya alam harus berpijak pada keadilan intergenerasi, bukan eksploitasi demi keuntungan elite.
- Pemimpin publik perlu mengadopsi ethos amanah, sebagaimana dicontohkan para khalifah yang zuhud.
- Nilai spiritual harus hadir dalam tata kelola modern, karena teknologi dan ekonomi tanpa moral hanya memperbesar daya rusak kerakusan.
Keserakahan dalam tinjauan sejarah Islam bukan sekadar dosa individu. Ia adalah akar kerusakan peradaban. Sejarah Islam, dari era Nabi hingga keruntuhan Andalusia, menunjukkan bagaimana kerakusan dapat merapuhkan tatanan sosial dan politik. Namun Islam juga menawarkan solusi, seperti keadilan distribusi, zakat, kepemimpinan yang amanah, dan pendidikan hati yang menundukkan nafsu.
Dalam dunia modern yang semakin kapitalistik, pesan sejarah Islam tentang bahaya serakah justru menjadi semakin relevan sebagai pedoman membangun masyarakat yang adil, lestari, dan bermartabat. Semoga bermanfaat dalam menata masa depan bangsa yang lebih baik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar