Oleh : Dede Farhan Aulawi
Hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai dua kekuatan utama di Timur Tengah kini sedang mengalami ketegangan serius. Rangkaian peristiwa terbaru dalam konflik di Yaman menunjukkan adanya pergeseran koalisi dan saling tuding antara kedua negara terkait dukungan terhadap pihak-pihak yang berkonflik. Ketegangan tersebut, yang memuncak lewat serangan udara Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung UEA di Yaman baru-baru ini, menandai rift (perpecahan) yang tidak hanya berdampak pada kawasan Teluk, tetapi berpotensi berdampak pada negara-negara lain yang memiliki hubungan kuat dengan kedua kekuatan tersebut, termasuk Indonesia.
Secara historis, Arab Saudi dan UEA telah menjadi sekutu strategis dalam berbagai isu kawasan, termasuk peran dalam koalisi melawan pemberontak Houthi di Yaman. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan posisi strategis telah muncul, misalnya dukungan UEA terhadap Dewan Transisi Selatan (STC) di Yaman, yang bertentangan dengan kepentingan Riyadh untuk mempertahankan pemerintah Yaman yang diakui internasional. Ketegangan meningkat ketika Saudi melakukan aksi militer terhadap target yang terkait dengan kelompok yang didukung UEA, yang kemudian memicu respons politik serta rencana penarikan pasukan UEA dari konflik tersebut.
*Dampak terhadap Indonesia*
1. Dampak Politik dan Diplomasi
a. Peran Indonesia dalam diplomasi internasional
Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki posisi unik dalam hubungan dengan negara-negara Teluk. Memanasnya hubungan Saudi–UEA memaksa kebijakan luar negeri Indonesia untuk lebih aktif mendorong dialog damai dan meredakan ketegangan, terutama dalam konteks konflik Yaman. Pemerintah Indonesia telah menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui jalur politik inklusif di bawah koordinasi PBB. Sikap ini menunjukkan upaya Jakarta untuk menjadi pendukung stabilitas internasional tanpa memihak secara langsung kepada salah satu pihak yang berkonflik.
b. Tantangan diplomatik baru
Ketegangan antara Saudi dan UEA juga dapat menimbulkan tantangan diplomatik bagi Indonesia dalam menjaga hubungan baik dengan kedua negara. Indonesia menjalin kerjasama yang kuat secara bilateral dengan Saudi maupun UEA berdasarkan prinsip non-intervensi dan saling menghormati. Namun, tekanan geopolitik yang meningkat dapat memaksa Indonesia untuk menyeimbangkan sikapnya agar tidak dipandang condong kepada salah satu blok, khususnya apabila konflik bergerak ke arah yang lebih luas.
2. Dampak Ekonomi
a. Risiko terhadap investasi dan perdagangan bilateral
Arab Saudi dan UEA merupakan mitra dagang utama Indonesia di kawasan Timur Tengah. Indonesia telah mencatat kerja sama ekonomi yang signifikan dengan kedua negara, termasuk kesepakatan investasi besar di sektor energi, infrastruktur, dan perdagangan. Misalnya, Indonesia dan Arab Saudi menandatangani beberapa kesepakatan senilai puluhan miliar dolar AS di berbagai sektor ekonomi. Sementara itu, Indonesia–UEA memperkuat kemitraan strategis termasuk implementasi perjanjian CEPA yang memberikan peluang perdagangan dan investasi lebih luas. Ketegangan politik yang meningkat dapat menimbulkan ketidakpastian di pasar, memengaruhi keputusan investor, serta menghambat aliran modal dan investasi baru — khususnya dalam sektor yang sensitif terhadap stabilitas politik seperti energi dan pembangunan infrastruktur.
b. Dampak terhadap stabilitas harga komoditas energi
Kedua negara adalah anggota penting OPEC+ yang berpengaruh terhadap kebijakan produksi minyak global. Meskipun pertemuan OPEC menghadapi tekanan kebijakan akibat perbedaan posisi Saudi dan UEA, hingga kini kebijakan produksi tetap stabil. Namun, eskalasi lebih lanjut dalam hubungan mereka berpotensi memengaruhi kesepakatan pengaturan produksi di masa depan, yang kemudian berdampak pada harga minyak dunia — dan secara tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
3. Dampak Sosial dan Keamanan
a. Persepsi masyarakat terhadap konflik di Timur Tengah
Indonesia memiliki perhatian publik yang kuat terhadap isu-isu di Timur Tengah karena basis sosial dan religius masyarakatnya. Ketegangan antara negara Arab dapat memicu reaksi emosi publik di Indonesia, terutama jika konflik menyebabkan dampak kemanusiaan yang besar seperti krisis pengungsi, korban sipil, atau hambatan bantuan kemanusiaan. Indonesia juga memiliki diaspora dan pekerja migran di wilayah Teluk, sehingga eskalasi konflik bisa menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan warga negara Indonesia di luar negeri.
b. Implikasi terhadap kerjasama keamanan
Membaiknya atau memburuknya hubungan antara Saudi dan UEA juga dapat berdampak pada kerja sama keamanan yang melibatkan Indonesia melalui forum multilateral atau kerja sama bilateral, terutama dalam isu-isu kontra-ekstremisme yang menjadi perhatian global. Ketegangan di antara dua negara besar di Teluk bisa mengubah dinamika keamanan kawasan yang berimplikasi lebih luas.
Dengan demikian, memanasnya hubungan antara Arab Saudi dan UEA bukan hanya persoalan geopolitik regional semata, tetapi memiliki implikasi yang lebih luas bagi negara-negara yang mempunyai hubungan erat dengan kedua kekuatan tersebut , termasuk Indonesia. Dampaknya mencakup dimensi politik (mengharuskan diplomasi yang hati-hati dan keseimbangan kebijakan luar negeri Indonesia), ekonomi (kemungkinan efek terhadap investasi, perdagangan, dan pasokan energi), serta sosial dan keamanan (menghadapi tekanan opini publik dan dinamika keamanan internasional). Indonesia perlu terus memainkan peran aktif dalam mengupayakan stabilitas dan penyelesaian damai konflik di kawasan tersebut, sambil tetap menjaga kepentingan nasionalnya dalam hubungan bilateral dengan Arab Saudi dan UEA secara seimbang dan strategis.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar