Bregasnews.com – Kisah sukses Muhadi menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang menuju puncak prestasi. Berawal dari modal 3 juta rupiah hasil menjual perhiasan istri, pria asal Brebes ini berhasil membangun imperium bisnisnya secara otodidak hingga dapat penghargaan dari Presiden di Istana Negara.
Perjalanan Muhadi dimulai tanpa backing finansial maupun relasi dari orang berpengaruh. Ia murni mengandalkan insting bisnis dan kerja keras. Salah satu momen krusial adalah ketika ia harus merelakan perhiasan istrinya dijual demi modal usaha.
"Uang hasil jual gelang dan kalung itu akhirnya sudah kembali. Saya bilang ke istri, 'Dek, beli kalung lagi ya buat simpanan.' Dulu, istri saya itu juragan becak. Begitu ada uang, saya belikan kalung lagi sebagai bentuk syukur karena sudah bisa melunasi," kenang Muhadi penuh haru.
Perjuangan dengan Vespa Pinjaman
Di awal usahanya, Muhadi bahkan belum memiliki kendaraan operasional. Ia terpaksa meminjam motor Vespa milik kakaknya, untuk membeli material bangunan seperti kayu dan bambu.
Meski hanya kendaraan pinjaman, Muhadi menjalaninya dengan rasa syukur. "Orang-orang desa mulai melihat, wah Muhadi sudah bisa naik Vespa. Padahal itu motor titipan untuk operasional usaha material saya," ujarnya.
Melesat di Usia Muda hingga Isu 'Pesugihan'
Keuletan Muhadi membuahkan hasil manis pada era 1980-an. Pertumbuhan asetnya yang begitu cepat sempat memicu desas-desus miring di tengah masyarakat.
Usia 25 Tahun: Menjadi sosok yang dianggap paling kaya di desanya dengan kepemilikan tambak, sawah, hingga lima unit mobil sebuah kemewahan langka di era tersebut hingga ia sempat diisukan menggunakan "pesugihan".
Usia 28 Tahun: Dominasi bisnisnya meluas hingga terkenal terkaya se Kecamatan Bulakamba.
Usia 32 Tahun (1992): Muhadi resmi dinobatkan sebagai salah satu pengusaha tersukses di Kabupaten Brebes.
Puncak Prestasi: Tangis di Hadapan Presiden Soeharto
Keberhasilan Muhadi bukan sekadar soal tumpukan materi. Dedikasinya dalam memberdayakan ekonomi lokal membawanya ke puncak pengakuan nasional. Pada tahun 1992, ia terpilih sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional.
Momen yang paling membekas adalah saat ia menginjakkan kaki di Istana Negara untuk menerima penghargaan langsung dari Presiden Soeharto.
"Saya menangis di Istana Negara. Saya tidak menyangka, anak desa yang memulai semuanya sendiri secara otodidak, bisa diundang ke Istana di zaman Orde Baru. Itu momen yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup," tutupnya.***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar