Bregasnews.com – Pendangkalan Saluran drainase di sepanjang jalan raya Pantura, khususnya di sisi selatan wilayah Desa Kaligangsa Wetan dan Desa Kaligangsa Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dikeluhkan warga lantaran kondisinya yang kian memprihatinkan.
Drainase tersebut diketahui sudah puluhan tahun tidak mendapatkan sentuhan perbaikan dari pihak terkait. Kondisi ini mengakibatkan saluran air tidak berfungsi maksimal dalam mengalirkan debit air, terutama saat curah hujan tinggi.
Pantauan di lapangan menunjukkan adanya pendangkalan parah serta tumpukan material yang menghambat laju air, sehingga genangan seringkali meluap dan mengalir ke permukiman warga.
Salah satu warga setempat yang diketahui sebagai aktivis Brebes, yang bernama Roni Kribo kepada awak media mengatakan, bahwa selama kurang lebih 20 tahun, warga hanya menyaksikan perbaikan pada lapisan aspal jalan saja, sementara infrastruktur penunjang seperti drainase seolah terlupakan, terangnya kepada awak media pada, Rabu 14/01/2026.
Saluran air ini sangat vital untuk mencegah banjir di jalur utama Pantura dan perumahan warga , namun sekarang fungsinya hampir nol karena sudah tertutup tanah dan sampah," ujar Roni.
Sementara itu Ketua LSM GARUDA SAKTI Kabupaten Brebes Eko Sindung Prakoso angkat bicara, terkait kondisi drainase di jalan Pantura Kaligangsa Wetan dan Kaligangsa Kulon yang lumpuh ini. Dikhawatirkan dapat mempercepat kerusakan jalan akibat genangan air serta mengganggu kelancaran arus lalu lintas logistik nasional yang melintasi jalur tersebut.
Eko Sindung dan masyarakat terdampak berharap , pemerintah pusat maupun daerah segera melakukan normalisasi dan perbaikan permanen sebelum dampak kerugian masyarakat semakin meluas,"tandanya.
Sementara itu Kepala Desa Kaligangsa Wetan Darjo. S.Pdi membenarkan, saluran pembuangan air yang berlokasi di selatan jalan Pantura tersebut telah puluhan tahun tidak mendapatkan perbaikan atau normalisasi yang maksimal, sehingga menyebabkan air tidak dapat mengalir dengan lancar dan menimbulkan potensi masalah, terutama saat musim hujan tiba.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya sedimen, sampah, dan penyempitan saluran akibat pembangunan di sekitarnya, sehingga kapasitas tampung air jauh berkurang.
"Darjo mengatakan, setiap kali hujan deras, air dari jalan raya langsung masuk ke halaman rumah warga, karena saluran airnya mampet dan sudah sangat rendah.
Ia menambahkan, kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun tanpa ada solusi permanen dari pihak terkait.
Kami menduga bahwa proyek peninggian jalan nasional di masa lalu turut memperparah kondisi drainase di wilayahnya.
Peninggian jalan membuat posisi saluran drainase menjadi lebih rendah dari badan jalan dan lingkungan sekitar, sehingga aliran air menjadi tidak optimal," ujar Darjo.
Selain itu, kurangnya pengawasan dan pemeliharaan rutin dari instansi terkait, baik dari pemerintah daerah maupun pusat (mengingat status jalan nasional), menjadi faktor utama terbengkalainya saluran vital ini.
Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk menormalisasi dan memperbaiki total sistem drainase di kawasan perbatasan Brebes- Kota Tegal.
Sistem drainase yang baik sangat penting untuk mencegah kerusakan jalan lebih lanjut, mengurangi risiko banjir, dan menjamin keselamatan serta kenyamanan masyarakat.
"Kami mohon pemerintah jangan tutup mata. Ini jalan utama Pantura, infrastrukturnya harusnya prioritas. Perbaiki segera drainasenya sebelum terjadi banjir yang lebih besar lagi," tegas Darjo.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pelaksanaan Jalan Nasional wilayah Tegal-Brebes terkait rencana perbaikan menyeluruh saluran drainase di lokasi tersebut. Masyarakat menantikan realisasi perbaikan yang dijanjikan, mengingat perbaikan jalan Pantura kerap dilakukan, namun belum menyentuh aspek drainase secara maksimal.***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar