Bregasnews.com – Pelaksanaan Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan di Kabupaten Brebes menyisakan catatan kritis dari kadernya sendiri. Wahidin, salah satu calon Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Jatibarang, secara terbuka mempertanyakan transparansi dan mekanisme penetapan unsur pimpinan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) yang dinilai janggal serta mendadak.
Sebagai kader senior yang telah mengikuti seluruh rangkaian instruksi partai termasuk proses pendaftaran daring (online) hingga uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) Wahidin merasa ada kemunduran kualitas demokrasi di internal organisasi jika dibandingkan dengan periode sebelumnya (2014–2019).
"Dulu, saat saya bersaing dengan almarhum Bambang Jaenuri, prosesnya sangat transparan. Hasil nilai dari DPC dibacakan dalam kondisi masih terbungkus rapi dan bersegel di hadapan para calon, pengurus PAC, serta ranting. Ketua terpilih saat itu langsung mengajak rembug untuk menentukan struktural secara bersama-sama. Hasilnya, partai tetap kompak, solid, dan harmonis," ujar Wahidin, melalui pesan Whatsapp, Jumat (29/5).
Kebalikannya, Wahidin menyoroti pelaksanaan Musancab untuk periode 2024–2029 yang dinilai tidak transparan. Ia mengungkapkan bahwa nama-nama pengurus KSB yang baru sudah bocor ke publik bahkan sebelum Musancab resmi dilaksanakan.
Anehnya lagi, dalam forum Musancab tersebut, para peserta calon ketua tidak dihadirkan, kecuali mereka yang namanya memang sudah ditentukan untuk mengisi posisi KSB.
Berdasarkan hasil pengumuman, struktur pimpinan PAC Jatibarang yang baru kini diisi oleh Daryanto (Ketua), Surip (Sekretaris), dan Thobi’in (Bendahara). Wahidin membeberkan sejumlah kejanggalan di balik mencuatnya nama-nama tersebut yang dinilai mencederai aspirasi arus bawah (ranting):
Daryanto (Ketua) Diduga dicalonkan oleh beberapa ranting karena adanya iming-iming atau janji imbalan tertentu. Bahkan, sejumlah pengurus ranting mengaku terkejut karena nama tersebut tiba-tiba sudah tertera dalam formulir ketikan dan mereka tinggal diminta menandatanganinya.
Thobi’in (Bendahara) Ditengarai muncul tanpa adanya usulan atau rekomendasi riil dari pihak ranting.
Wahidin mempertanyakan bagaimana figur yang belum pernah duduk di kepengurusan PAC tiba-tiba bisa langsung ditunjuk menduduki posisi strategis KSB.
Padahal, syarat untuk mencalonkan diri semestinya memprioritaskan mereka yang pernah berpengalaman di kepengurusan PAC dan mendapat dukungan tertulis dari ranting sebagaimana formulir dukungan tulisan tangan yang dikantongi oleh Wahidin sendiri.
"Saya pribadi tetap mengucapkan selamat atas terbentuknya kepengurusan PAC PDI Perjuangan Jatibarang yang baru untuk periode 2024-2029. Mudah-mudahan kepengurusan yang dilantik ini bisa kompak dan solid. Namun secara jujur, bagaimana mungkin nama-nama yang tidak pernah menduduki pengurus PAC tiba-tiba langsung ditunjuk sebagai pengurus KSB? Ini yang membuat saya mempertanyakan mekanisme dan transparansi yang digunakan," tegas Wahidin.
Meski mengaku kecewa dengan dinamika pemilihan di tingkat PAC, Wahidin menegaskan loyalitasnya sebagai kader Banteng tidak luntur. Ia memilih menyalurkan energinya untuk tetap berjuang membesarkan partai melalui jalur kedewanan.
Saat ini, Wahidin masih memegang amanah sebagai Ketua Koordinator Kecamatan (Korcam) wilayah Jatibarang untuk pemenangan Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Harris Turino, M.Si.
"Saya memilih untuk lebih fokus memimpin relawan dan struktur pemenangan di bawah Korcam Harris Turino Jatibarang. Sejak terbentuk tahun 2024, kami sudah memiliki barisan tim yang sangat solid hingga tingkat desa (Kordes) dan anak ranting, dengan total kekuatan mencapai 115 personel pemenangan. Komitmen kami tetap satu: tegak lurus untuk memenangkan agenda-agenda politik PDI Perjuangan di masa mendatang," pungkas Wahidin.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar