Saat Panggilan Allah Diabaikan - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Kamis, 11 Juni 2026

Saat Panggilan Allah Diabaikan


oleh : Dede Farhan Aulawi
Dalam kehidupan manusia, Allah senantiasa memanggil hamba-Nya menuju jalan kebaikan. Panggilan itu hadir dalam berbagai bentuk: suara azan yang berkumandang, nasihat yang menyentuh hati, ayat-ayat suci yang dibaca, musibah yang mengingatkan, hingga nikmat yang mengajak manusia untuk bersyukur. Namun tidak semua orang menyambut panggilan tersebut. Sebagian memilih menunda, mengabaikan, bahkan berpaling darinya.

Ketika panggilan Allah diabaikan, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah hati. Hati yang dahulu peka terhadap kebenaran perlahan menjadi keras. Rasa bersalah saat melakukan kesalahan semakin berkurang, sementara kenikmatan dunia terasa semakin menguasai pikiran. Kesibukan, ambisi, dan hawa nafsu menjadi alasan untuk menunda ibadah dan mengesampingkan nilai-nilai ketuhanan. Padahal, setiap penundaan dapat menjadi langkah menjauh dari jalan yang lurus.

Mengabaikan panggilan Allah juga membuat manusia kehilangan arah hidup. Kesuksesan materi mungkin dapat diraih, tetapi ketenangan jiwa belum tentu didapatkan. Banyak orang memiliki kekayaan, jabatan, dan popularitas, namun tetap merasa hampa. Hal itu terjadi karena kebutuhan rohani tidak terpenuhi. Hati manusia diciptakan untuk mengenal dan mengingat Allah. Ketika hubungan dengan Sang Pencipta renggang, kekosongan batin sulit dihindari.

Sejarah umat manusia memberikan banyak pelajaran tentang akibat mengabaikan peringatan Tuhan. Berbagai kaum terdahulu yang menolak kebenaran akhirnya menghadapi kehancuran. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan peringatan agar manusia masa kini tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah memberikan kesempatan untuk bertobat, tetapi kesempatan itu tidak berlangsung selamanya.

Meski demikian, rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa manusia. Selama napas masih berhembus, pintu taubat tetap terbuka. Seseorang yang pernah jauh dari Allah masih dapat kembali dengan hati yang tulus. Bahkan sering kali orang yang pernah tersesat justru menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya setelah menyadari kekeliruannya.

Oleh karena itu, setiap kali panggilan Allah datang, hendaknya manusia menyambutnya dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati. Jangan menunggu usia senja, musibah besar, atau kehilangan yang menyakitkan untuk kembali kepada-Nya. Sebab tidak ada jaminan bahwa kesempatan akan selalu tersedia. Saat panggilan Allah diabaikan, manusia sesungguhnya sedang menjauh dari sumber ketenangan dan keselamatannya sendiri. Sebaliknya, ketika panggilan itu disambut, terbukalah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna, damai, dan penuh keberkahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman