Limbangan Festival, Pertama Dalam Sejarah Desa Memperkenalkan Budaya Indonesia Kepada Masyarakat Lokal - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad



Post Top Ad

Rabu, 29 Agustus 2018

Limbangan Festival, Pertama Dalam Sejarah Desa Memperkenalkan Budaya Indonesia Kepada Masyarakat Lokal


Bregasnews.com - Budaya merupakan nafas bagi setiap kehidupan masyarakat, tentunya kita semua sudah sepakat bahwasanya Indonesia memiliki beragam budaya yang harus di lestarikan sampai kapanpun, tidak hanya dalam elemen pendidikan, Masyarakat lokal pun harus ikut serta melestarikan budaya –budaya Indonesia.

Oleh karena itu, LIFEST ( Limbangan Festival) hadir untuk pertama kalinya menorehkan sejarah desa, Festival Budaya ini diadakan di masyarakat pedalaman, yang latar belakang pendidikanya tertinggal. Tentunya harus mendapatkan dukungan yang ekstra dalam mengadakan acara ini, apalagi melibatkan seluruh pemuda-pemudi lokal yang harus ikut serta sebagai talent untuk tampil di hadapan seluruh masyarakat dalam memperkenalkan budaya-budaya Indonesia. 

Bukan hal yang mudah mempersatukan seluruh lapisan masyarakat lokal dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda-beda, apalagi pemikiran-pemikiran pedesaan yang masih acuh tak acuh tidak peduli terhadap acara-acara tertentu, dalam hal ini, adalah suatu tantangan bagi para penggerak untuk mewujudkan kesuksesan acara ini.

Masih dalam  memeriahkan HUT Kemerdekaan RI yang ke 73, guna menarik perhatian dan antusias  warga, LIFEST mengadakan berbagai macam perlombaan dengan tema “Permainan zaman dulu yang harus di lestarikan” sesuai ekpektasi, warga sangat bersemangat untuk mengikuti berbagai lomba-lomba yang diadakan mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kegiatan ini dilaksanakan Sabtu,  25 agustus 2018 pukul 19.15 WIB.

Pembagian hadiah tentunya akan sangat menarik jika diadakan pada umumnya di malam resepsi, namun dengan konsep dan tema yang berbeda, LIFEST kembali memberikan kejutan-kejutan kepada warga karena menampilkan hampir dari 100 orang pemuda yang bersatu dan menampilkan tarian-tarian tradisional, mulai dari tari Jaipong Kembang Tanjung dari Bandung, tari Saman dari Aceh, tari Gemu Famire yang lagunya di ciptakan oleh Nyong Franco dari Nusa Tenggara Timur, Tari Dodogeran dari Bekasi, kemudian dilanjut tari Kecak dari Bali, serta penampilan teatrikal musikalisasi melankolis yang disertai monolog dan puisi yang berhasil mempengaruhi ratusan penonton meneteskan air mata.

Tujuan di adakanya acara ini tentunya agar seluruh lapisan masyarakat mengetahui dan berharap untuk melestarikan budaya-budaya Indonesia serta tidak melupakan budaya lokal yang selama ini vakum. Dan juga agar menciptakan rasa kesatuan persatuan tanpa golongan-golongan dalam memajukan desa, berkembang dengan pengetahuan dan rasa tanggung jawab menjaga desa. Melestarikan budaya Senyum, Sapa, Salam yang semakin kesini semakin menghilang. Dan juga memotivasi generasi muda agar terus berfikir kreatif, dan inovatif. Serta dapat mewujudkan intelektual, emosional, khususnya spritual seluruh warga dalam menjaga kesatuan persatuan dalam berkehidupan bermasyarakat.(ts)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman