Dede Farhan Aulawi Jelaskan Dunia Kepariwisataan di Era Tourism 4.0 - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 07 Februari 2024

Dede Farhan Aulawi Jelaskan Dunia Kepariwisataan di Era Tourism 4.0



Bregasnews.com - “ Keunggulan natural dari pariwisata Indonesia tidak terbantahkan lagi. Masyarakat dunia semakin mengenal betapa lengkap keragaman dan jumlah pariwisata tersebut, meskipun ada beberapa keluhan klasik yang sering kita dengar dari dulu, yaitu masalah kebersihan lingkungan alias SAMPAH. Masalah kebersihan ini memang ada banyak factor, baik dari factor pemahaman para pengelola, masyarakat sekitar, maupun kesadaran dari pengunjung itu sendiri. Ini merupakan PR Bersama yang harus terus disosialisasikan setiap saat. Jangan pernah bosan dan jangan pernah berputus asa. Apalagi jika kita mau mengikuti perkembangan zaman dengan meningkatkan optimalisasi peran teknologi guna menunjang kemajuan bidang kepariwisataan “, ujar Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung, Selasa (6/2).


Menurutnya, teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk mengakselerasi berbagai bisnis, tak terkecuali pariwisata. Pemanfaatan teknologi di era Industri 4.0 dapat mengakselerasi bisnis pariwisata sekaligus membentuk ulang masa depan bisnis di bidang ini. Untuk saat ini memang pemanfaatannya masih sangat kurang karena terkendala ketersediaan SDM yang merata, sebagaimana meratanya potensi wisata di tanah air. Menilik konsep Tourism 4.0, ia menyebutkan Artificial Intelligence, Internet of Things (IoT), dan Cloud merupakan deretan teknologi terpenting bagi masa depan industri pariwisata. Deretan teknologi ini memiliki peranan penting lantaran mampu menciptakan kecerdasan berbasis data.


“ Teknologi-teknologi ini memungkinkan kita untuk mengambil peluang dengan menyesuaikan perjalanan para wisatawan. Misalnya, melalui IoT kita bisa mengumpulkan banyak data, dan mengetahui setiap langkah para wisatawan. Kita bisa mengetahui apa yang mereka cari, destinasi tujuan mereka, hingga penginapan atau restoran yang dipilih. Di sini, kita bisa melakukan personalisasi pada tiap-tiap wisatawan dan menawarkan berbagai hal yang sesuai dengan minat masing-masing merek ”, jelas Dede.


Di satu sisi, kehadiran teknologi memungkinkan pebisnis untuk tak lagi melakukan segmentasi. Seperti teori baru versi mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya, “segmentasi terbaik adalah dengan tidak mensegmentasikannya. Ia menilai, teknologi digital memungkinkan pemain bisnis untuk mengetahui keseluruhan perilaku dari konsumen. Hal ini memungkinkan pemain bisnis membidik satu per satu target mereka tanpa perlu melakukan segmentasi. Pasar pun tak terbatas. Menjadi lebih luas dan semua bisa dibidik sesuai dengan perilaku masing-masing. Pemain bisnis bisa menawarkan solusi atas hasrat dan minat dari setiap calon wisatawan.


Bicara soal tren teknologi di industri pariwisata ke depan, Dede mengatakan web, voice technology, automation, dan blockchain bakal membentuk model baru dari industri ini. Web dapat digunakan untuk membuat penawaran yang lebih personal dan targeting, sementara voice technology ke depan nampaknya akan menjadi tren karena ternyata konsumer saat ini lebih senang melakukan percakapan. Voice technology yang bagus akan memberikan pengalaman lebih bagi para wisatawan. Industri pariwisata pun diprediksi bakal lebih berwarna dengan automation, terutama di bidang transportasi.


Blockchain pun tak hanya memengaruhi sisi keuangan, melainkan mulai masuk ke industri pariwisata. Pemanfaatan teknologi Industri 4.0 di bidang pariwisata dapat membawa pengalaman lebih bagi para wisatawan. Contohnya, dalam mencari inspirasi menentukan destinasi perjalanan, calon wisatawan dapat menggunakan Virtual Reality untuk membantu merasakan destinasi tersebut secara digital. Bahkan, Joddy memprediksi, nanti sepatu pun dapat mengarahkan penggunanya ke restoran yang mungkin cocok untuk mereka kunjungi.


Dengan demikian, perkembangan teknologi ini akan sangat membantu sekalian dalam memajukan pariwisata Indonesia, termasuk dari aspek pemasaran berbasis teknologi (marketing technology based). Apalagi dunia marketing saat ini sudah memasuki era 6.0 dimana lanskap pemasaran memasuki babak baru. Konsep ini menawarkan pendekatan pemasaran masa depan yang menjawab pengalaman pelanggan yang semakin phygital, maksudnya adalah meleburnya fisik dan digital.


Dunia yang phygital ini mulai didominasi oleh Gen Z dan Gen Alpha, dua segmen yang digolongkan sebagai digital native. Mereka dicirikan dengan suka berpindah-pindah aktivitas dari lingkungan virtual ke dunia nyata atau sebaliknya. Karena itu, Marketing 6.0 menawarkan strategi pemasaran yang relevan dengan karakter dan preferensi mereka, seperti multisensori, interaktif, dan engagement. Konsep ini juga mengenalkan tren digital baru, seperti video pendek, media sosial berbasis komunitas, e-commerce interaktif, kecerdasan buatan (AI) berbasis bahasa, dan perangkat imersif. Termasuk membuka wawasan pemasar tentang multisensory marketing, spatial marketing, dan metaverse marketing untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang luar biasa.


“ Marketing 6.0 siap menjadi kompas bagi pemasar untuk menjelajahi lanskap pemasaran yang dinamis, membangun customer engagement lebih dalam, dan memberikan pengalaman merek tak terlupakan. Untuk lebih mendalami dan memahami, kita bisa membaca buku Marketing 6.0 yang merupakan buku ke-empat dari tetralogi seri Marketing X, setelah Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit (Wiley, 2010), Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital (Wiley, 2016), dan Marketing 5.0: Technology for Humanity (Wiley, 2021). Jadi jangan pernah merasa ilmu kita sudah cukup lalu tidak mau meng-up grade diri untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tetap semangat dan sukses selalu dalam pengabdian untuk negeri yang kaya dengan khasanah kepariwisataannya “, pungkas Dede.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman