Ketika Al-Qur’an Bicara tentang Kerusakan di Muka Bumi - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Selasa, 09 Desember 2025

Ketika Al-Qur’an Bicara tentang Kerusakan di Muka Bumi


Oleh : Dede Farhan Aulawi
Al-Qur’an telah lama memberikan peringatan mendalam tentang kerusakan yang muncul di darat, laut, dan dalam tatanan kehidupan manusia. Meski diturunkan lebih dari 14 abad lalu, pesan-pesan ilahiah ini menjadi sangat relevan di tengah krisis ekologis, konflik sosial, dan degradasi moral yang terjadi dewasa ini. Ayat-ayat tentang kerusakan (fasad) bukan hanya teguran, tetapi juga cermin untuk mengevaluasi bagaimana manusia memperlakukan amanah bumi.

*Fasad: Kerusakan sebagai Akibat Ulah Manusia*

Salah satu ayat paling kuat mengenai kerusakan adalah firman Allah:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum [30]: 41)

Ayat ini menegaskan dua hal :

- Kerusakan bukan sekadar fenomena alam, melainkan disebabkan oleh perbuatan manusia.

- Kerusakan adalah peringatan, agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Dalam konteks modern, fasad dapat berupa :

- Destruksi lingkungan (penebangan hutan, polusi, pemanasan global).

- Kerusakan sosial (kejahatan, korupsi, eksploitasi).

- Kerusakan moral dan spiritual.

Manusia, sebagai khalifah di bumi, sering tergelincir ketika menyalahgunakan akal dan kekuasaan, sehingga justru merusak apa yang dipercayakan untuk dijaga.

*Kerusakan sebagai Konsekuensi Ketidakadilan*

Al-Qur’an juga mengaitkan fasad dengan sikap zalim, congkak, dan semena-mena. Allah berfirman tentang kaum yang berbuat kerusakan :

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf [7]: 56)

Ayat ini menggambarkan bahwa bumi awalnya berada dalam kondisi seimbang (mizan). Ketika manusia merusaknya, mereka sedang menghancurkan harmoni yang sudah Allah tetapkan.
Kerusakan dalam ayat ini mencakup :

- Eksploitasi sumber daya yang melampaui batas,
- Penipuan dalam transaksi ekonomi,
- Konflik dan pertumpahan darah,
- Kerusakan moral melalui penyimpangan hidup.

Ketidakadilan dalam bentuk apa pun pada akhirnya bermuara pada fasad, baik pada alam, masyarakat, maupun jiwa manusia.

*Kerusakan Ekologis dalam Perspektif Al-Qur'an*

Al-Qur’an mendorong manusia menjaga keseimbangan alam. Firman Allah :

“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia letakkan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.”
(QS. Ar-Rahman [55]: 7–9)

Keseimbangan (mizan) ini mencakup sistem ekologi, iklim, dan seluruh rantai kehidupan. Ketika manusia merusak hutan, mengubah ekosistem, atau mencemari laut, sesungguhnya mereka sedang mengganggu mizan yang sudah ditetapkan Allah.

Bencana alam, banjir bandang, kegersangan, dan berbagai fenomena ekstrem seringkali merupakan akumulasi dari ulah manusia yang menyalahi prinsip keseimbangan ini.

*Kerusakan Sosial dan Moral dalam Nalar Al-Qur’an*

Fasad juga hadir dalam bentuk kerusakan akhlak. Al-Qur’an banyak mengisahkan kaum terdahulu yang binasa bukan karena bencana alam semata, tetapi karena lemahnya moral, kesombongan, penyimpangan, dan penindasan terhadap kaum lemah.

Kisah Fir’aun, misalnya :

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sombong di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah.”
(QS. Al-Qasas [28]: 4)

Kerusakan sosial ini, seperti perpecahan, kebencian, dominasi, dan tirani, timbul ketika manusia kehilangan ketakwaan dan menggunakan kekuasaan bukan untuk membangun, tetapi menghancurkan tatanan masyarakat.

*Seruan untuk Memperbaiki, Bukan Menambah Kerusakan*

Al-Qur’an bukan hanya menegur, tetapi juga menawarkan jalan pemulihan. Tugas manusia adalah ishlah (perbaikan). Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjadi agen kebaikan :

“Mereka itu adalah orang-orang yang memperbaiki di muka bumi dan bukan orang-orang yang membuat kerusakan.”
(QS. Hud [11]: 88)

Perbaikan ini mencakup :
- Mengembalikan kelestarian alam.
- Menegakkan keadilan.
- Membangun masyarakat damai.
- Menjaga integritas moral dan spiritual.
- Memperbaiki tata kelola ekonomi dan politik agar berpihak pada kemaslahatan umum.

*Krisis Zaman Modern : Bukti Aktual dari Makna Fasad*

Jika kita membaca tanda-tanda zaman, ayat-ayat tentang kerusakan tidak pernah seaktual hari ini :

- Perubahan iklim yang mengancam jutaan manusia.
- Degradasi moral yang melahirkan kejahatan terorganisir.
- Ketidakadilan ekonomi, eksploitasi, dan ketimpangan.
- Perpecahan sosial dan konflik yang dipicu oleh keserakahan.
- Krisis spiritual, di mana manusia kehilangan nilai dan arah.

Kerusakan modern ini menggambarkan bahwa manusia telah jauh dari konsep amanah yang Allah tetapkan.

*Saatnya Kembali Menjadi Manusia yang Menjaga, Bukan Merusak*

Al-Qur’an mengingatkan bahwa bumi bukan milik manusia untuk dieksploitasi, melainkan titipan Allah yang harus dijaga. Kerusakan yang terjadi hari ini bukanlah sekadar fenomena alam atau sosial, tetapi cermin dari kegagalan manusia memenuhi amanahnya.

Ayat-ayat tentang fasad adalah ajakan untuk bertobat, kembali pada keseimbangan, memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan manusia dan alam, dan membangun peradaban yang berkeadilan dan bermartabat.

Pada akhirnya, ketika Al-Qur’an bicara tentang kerusakan bumi, sebenarnya ia sedang berbicara tentang manusi, tentang tanggung jawab kita, pilihan kita, dan masa depan yang kita bangun atau kita hancurkan sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman