​Tergerus Zaman dan Transportasi Online, Sopir Angkot Brebes-Jatibarang Masih Mampu Bertahan Dibanding Rute Slawi - bregasnews.com - Koran Online Referensi Berita Pantura

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 03 Juni 2026

​Tergerus Zaman dan Transportasi Online, Sopir Angkot Brebes-Jatibarang Masih Mampu Bertahan Dibanding Rute Slawi

​Bregasnews.com — Modal transportasi umum legendaris, angkutan kota (angkot), kian hari kian terhimpit oleh kerasnya roda perkembangan zaman. Di tengah gempuran kendaraan pribadi dan layanan berbasis digital, nasib para sopir angkot di wilayah Brebes dan Tegal kini berada di ujung tanduk. 

Meski demikian, untung tampaknya masih sedikit berpihak pada trayek Brebes – Jatibarang jika dibandingkan dengan rute Slawi – Jatibarang.
​Hal tersebut diungkapkan oleh Wahidin, seorang warga Desa Bangsri yang telah setia menarik angkot jurusan Brebes - Jatibarang selama satu dekade terakhir (sejak 2016 hingga sekarang).

​Saat ditemui pada Selasa (2/6/2026), Wahidin mengaku masih bisa bernapas lega dan bersyukur dengan kondisi pendapatannya saat ini, walau nilainya jauh dari kata melimpah.

​"Setoran saya cuma Rp 70.000 sehari. Itupun alhamdulillah disetorkan ke istri sendiri, karena kebetulan mobilnya punya istri. Kalau ada sisa lebih, paling banyak saya bisa pegang uang Rp 50.000 untuk dibawa pulang," ujar Wahidin.

​Menurut Wahidin, nasib mandor dan sopir di jalur Brebes – Jatibarang terbilang "lebih beruntung" karena jumlah armada yang beroperasi di rute ini sudah semakin sedikit (berkurang drastis), sehingga persaingan antarsesama angkot tidak terlalu ketat. Bahkan, asa mencari nafkah masih ada hingga petang hari.

​"Sehabis Magrib pun, kadang masih ada satu atau dua penumpang yang mau naik," tambahnya.

​​Pemandangan yang jauh lebih memprihatinkan justru terjadi pada jalur Jatibarang – Slawi. Jalur yang dulunya ramai tersebut kini berada di ambang kepunahan. Berdasarkan pengamatan para sopir, jumlah armada angkot Jatibarang – Slawi yang masih bertahan saat ini bisa dihitung dengan jari.

​"Lebih parah lagi yang jurusan Jatibarang – Slawi. Sekarang mungkin hanya tinggal beberapa gelintir saja, paling banyak sisa 4 unit angkot yang beroperasi," ungkap Wahidin prihatin.

​​Kemunduran transportasi massal lokal ini dipicu oleh beberapa faktor makro yang sulit dibendung oleh para sopir konvensional. Wahidin membeberkan tiga tantangan utama yang mencekik pendapatan mereka saat ini:

​Kepemilikan Kendaraan Pribadi: Mayoritas masyarakat kini telah beralih menggunakan sepeda motor pribadi untuk mobilitas harian.

​Maraknya Transportasi Online: Kehadiran layanan ride-hailing seperti Grab dan ojek online (ojol) menawarkan kepraktisan door-to-door yang langsung merebut pangsa pasar angkot.

​Persaingan Unik dengan Odong-Odong: Faktor yang tidak kalah berat adalah menjamurnya odong-odong. Wahidin mengeluhkan bahwa warga di kawasan perumahan kini lebih senang naik odong-odong untuk rute dekat, yang otomatis memangkas potensi jumlah penumpang mereka.

​Kondisi ini menjadi alarm keras bagi keberlangsungan transportasi umum lokal. Para sopir berharap ada perhatian atau regulasi dari pihak terkait agar angkot tradisional yang padat nilai sejarah ini tidak benar-benar lenyap dari jalanan Brebes dan sekitarnya.
​Reporter : Teguh
Editor : Tris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Iklan Disewakan

Laman